Sabtu, 05 Mei 2012

Syaikh Ahmad Ar-Rifa'i : Membalas Hinaan dengan Kasih Sayang

      "Maafkan aku, sesungguhnya kasih sayang kalian membuatku lega," begitu jawabannya terhadap para pencelanya. Sehingga para pencela itu terperanjat.



 Masjid Ar-Rifa'i Cairo


 Syeikh Ahmad Ar-Rifa'i



         Pada suatu hari Imam Ahmad Ar-Rifa'i  diminta bantuan oleh teman-temannya  untuk memeriksa kondisi tubuh seorang bocah yang terinjak-injak para pengunjung sebuah perhelatan malam. Saking semaraknya acara itu, para tamu bernyanyi, menari dengan riangnya, sehingga tidak terasa mereka telah menginjak-injak seorang anak kecil yang duduk di permadani. Hal itu baru diketahui pada pagi harinya setelah mereka lelah berjoget. Dan ketika diperiksa, ternyata anak itu sudah tidak bernyawa.

       Tentu saja tuan rumah kelimpungan. Maka dia meminta bantuan kepada salah seorang tamunya, yaitu Syaikh Umar. Syaikh Umar kemudian minta bantuan lagi kepada Syaikh Ahmad  Ar-Rifa'i RA., yang dikenal sangat zuhud dan menjadi panutan masyarakat. Syaikh Umar banyak belajar pada Syaikh Ahmad.

      Atas permintaannya itu, Syaikh Ahmad Ar-Rifa'i kemudian shalat dua raka'at dan berdoa kepada Allah. Setelah itu ia berkata kepada anak tersebut, "Wahai anakku, waktu subuh telah tiba, bangunlah." Ajaib, anak itu bangun, seperti tidak pernah terjadi apa-apa pada dirinya.


"Maafkan Hambamu, Tuan..."

    Di kisah yang lain, ketika sedang duduk di Desa Ummu Ubaydah, tiba-tiba sang syaikh mengangkat lehernya seraya berkata, "Di atas leherku.... di atas leherku..". Orang yang mendengar hal itu bingung, "Wahai Imam, kenapa Tuan tiba-tiba berkata demikian?" Ia menjawab, "Sekarang Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani di Baghdad berkata bahwa sesungguhnya semua leher para wali berada di telapak kakinya." Ketika diselidiki, ternyata benar apa yang dikatakannya. Saat itu Syaikh Abdul Qadir sedang mengatakan hal itu. 

   Di kisahkan lagi, pada suatu hari beberapa orang fakir mendatangi Imam Ahmad, lalu mencelanya. Mereka mengatakan, ia adalah orang yang telanjang, dajjal, orang yang menghalalkan sesuatu yang haram, yang mengganti Al-Qur'an, orang kafir, orang sinting, dan berbagai cacian yang memerahkan telinga. Mendengar celaan itu, Imam Ahmad bukannya marah, tapi malah membalas dengan membuka kafiyen (penutup kepala), lalu mencium tanah dan berkata, "Wahai Tuan-Tuanku, maafkanlah hambamu ini." Lalu ia mencium tangan dan kaki orang-orang yang menghinanya dan berkata, "Maafkan aku, sesungguhnya kasih sayang kalian sangat membuatku lega."

    Hal itu membuar orang-orang kafir terperanjat. Mereka tidak mengira sama sekali akan disambut oleh Imam Ahmad dengan sikap yang sangat hormat. Lalu mereka pun berkata, "Sama sekali kami tidak pernah melihat orang sepertimu, yang bisa menahan celaan dan hinaan kami tanpa berubah sedikitpun." "Ini semua berkat keberkahan yang kuperoleh dari kalian," kata Imam Ahmad..


Lidah Hakiki

     Imam Asy-Sya'rawi, seorang tokoh tarekat yang juga seorang wali, berkata,"Imam Ahmad Ar-Rifa'i adalah penyelamat umat dan quthb yang terkenal. Beliau salah satu imam Thariqah, imam bagi kaum arif, dan umat berada di bawah kepemimpinannya..."

    Sedangkan Habib Ahmad bin Zen Alhabsyi, penulis Syarh Al-Ainiyah, mengatakan, Imam Ahmad Ar-Rifa'i adalah orang yang memiliki sifat keras dan sosok yang banyak memiliki rahasia. Dari dirinya tampak sifat zuhud dan ilmu yang melimpah, rendah hati, selalu mendahulukan kepentingan orang lain, dan tidak senang memamerkan diri.

   Ia adalah salah seorang yang diberi karamah oleh Allah, diantaranya berbicara dengan makhluk ghaib, dan mendapat gelar quthb. Sesungguhnya Allah telah mengumpulkan pada dirinya bermacam-macam kemuliaan dan keutamaan. Ia mempunyai bahasa yang tinggi dengan menggunakan lidah hakiki serta mendapatkan puncak dari kepemimpinan di dalam ilmu tahriqah serta dapat membaca kedudukan manusia.

  Imam Ahmad Ar-Rifa'i terkenal dengan kesabaran, zuhud, wara, serta kerendahan hatinya. Habib Alwi bin Abdullah bin Syihab RA menulis dalam kitabnya yang berjudul Tuhfatul Ahbab, ada tiga wali yang ditampakkan kepemimpinannya oleh Allah lantaran kerendahan hatinya, yaitu Syaikh Alaidrus, Syaikh Abubakar bin Salim, dan Syaikh Ahmad Ar-Rifa'i.


Tiang bagi Umat 

    Dalam kitab Syarh Al-Ainiyah disebutkan, Syaikh Ahmad Ar-Rifa'i lahir di Desa Ummu Ubaydah, daerah Batoeh, Irak, pada bulan Muharram tahun 500 H, lima tahun sebelum wafatnya Imam Ghazali RA. Nasabnya sampai ke Nabi Muhammad, melalui Husein bin Ali bin Abi Thalib. Ia mendapat pendidikan agama dari beberapa ulama besar pada zamannya, antara lain Imam Manshur Az-Zahid, yang tidak lain adalah pamannya sendiri. Juga Imam Ali bin Al-Qori Alwasity. Dengan kesungguhannya ia kemudian berhasil menjadi ulama besar dan salah satu dari empat quthb, yang menjadi tiang bagi umat.

  Ia pun mempunyai murid-murid yang kemudian juga menjadi ulama besar, seperti Imam Ali Almulaiyji, Imam Alwalie Abdus Salam Alqaliby, dan Imam Ibrahim Al'azab. Imam Ahmad adalah seorang yang bijaksana, pemurah, penuh kasih sayang kepada siapa pun, bahkan kepada hewan sekalipun.

   Diriwayatkan, Imam Ahmad tidak pernah mengusir nyamuk dan lalat dari badannya. Bahkan, apabila kucing tidur di jubah yang ditaruhnya, diguntingnya jubah tersebut agar tidak mengganggu tidur si kucing. Imam Ahmad Ar-Rifa'i wafat pada bulan Jumadil Ula tahun 578 H, dimakamkan di pemakaman Imam Yahya Al-Bukhari, Baghdad.

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Bolehkah mencium kaki manusia sebagai penghormatan? Bukankah kita tidak boleh melanggar perintah Nabi Shollallaahu 'alaihi wa sallam?

moh rifai mengatakan...

Penghormatan dan penghambaan 2 hal yg berbeda...kalau anda baca di alqursn..Alloh swt menyuruh malaikat sujud pada nabi adam as...ini adalah bentuk penghormatan..bukan penghambaan...kalo memahami sesuatu hanya literal akan terbentur oleh keterbatasan...imam Rifaiy adalah waliyulloh. .walau is tdk ma'shum tapi ia jauh dari musyrik

Fahmi Attamimi mengatakan...

Benar....

Poskan Komentar